Jika
ditanya siapa yang bnertanggung jawab dalam menjaga serta melestarikan bumi ini?
Tentu penduduk didalamnya yang lagi berakal diciptakan tuhan. Bagaimana caranya?
Tentu harus diawali dari lingkungan yang berskala kecil yaitu keluarga. Mengenai
karakter yang bersih serta dapat menjaga lingkungannya tentunya itu harus
dipupuk disetiap pribadi orang maka dari itu, sangat diperlukan peranan
keluarga terutama ibu. Ibu sebagaimadrasatu ula, pendidik pertama dalam
keluarga. Disini sanagat;lah penting peranan ibu agar dapat menumbuhkan
jiwa-jiwa yang peduli dengan kebersihan diri serta lingkungannya.
Langkah
utama yang di-chager berubah adalah pola pikir sang ibu. Peran keluarga khusus
ibu, sangat penting untuk mewujudkan dasar-dasar pendidikan lingkungan.
Pendidikan lingkungan paling sederhana diawali membuang sampah pada tempatnya.
Perintah sederhana dirumah, diajarkan tanggung jawab sederhana pada putra-putri
kecil kita dengan memberi contoh nyata, mengingatkan pesan secara berulang,
menegur dengan senyuman jika lupa, sehingga pesan itu bukan menjadi beban.
Ingatlah, sampah terbesar di negeri ini berasal dari rumah tangga. Jadi peran
penting ibu juga harus meminimalisir sampah rumah tangga, tentunya dengan
belanja secukupnya tidak berlebihan. Masing-masing individu bertanggung jawab
atas munculnya sampah. Jadi sebagai ibu rumah tangga, wajib pintar memilah
sampah, baik itu sampah organik dan non organik.
Pemilahan
sampah non-organik, kita pisahkan berdasarkan jenis limbahnya berupa: kertas,
plastik, botol, dll. Sampah non organik ini, dikumpulkan ke bank sampah.
Sedangkan, sampah organik diolah dan bisa dimanfaatkan kembali untuk pupuk,
dll. Para ibu rumah tangga digalakkan membuat lubang biopori mininal lima
lubang di lingkungan rumah. Lubang biopori dipergunakan membuang sisa-sisa
makanan, sehingga tanah di lingkungan rumah semakin subur. Pengetahuan sang ibu
perlu diasah kompetensinya dalam meminimkan sampah dan mengelola sampah
keluarga. Sehingga Gerakan Indonesia Bersih (GIB) berasal dari keluarga,
diawali dari diri sendiri, dari yang kecil yang mudah dilakukan dan
dari sekarang tidak boleh ditunda. Ibu-ibu milenial akan menunjukkan perilaku
kekinian. Setiap keluar rumah, di dalam tasnya selalu ada tas khusus untuk
mengurangi sampah plastik. Mereka akan membawa tempat-tempat khusus saat belanja.
Karakter positif inilah, yang akan dibangun dalam mewujudkan GIB.
Para
ibu melinial selalu meng-upgrade diri dengan penerapan sistem 3 R.
Sistem 3R yaitu Reuse, Reduce, dan Recycle. Reuse adalah menggunakan kembali
sampah. Reduce yaitu mengurangi sampah. Recycle yang berarti mengolah
kembali atau mendaur ulang. Langkah selanjutnya, tinggal peran sekolah untuk
membenahi dan menyempurnakan karakter-karakter yang belum kokoh. Peran orangtua
dan sekolah saling bersinergi untuk menumbuhkan karakter-karakter yang mulia.
Pekerjaan besar, antara dunia pendidikan dengan keluarga untuk mengubah
perilaku dalam menjaga dan mewujudkan SDM yang peduli pada lingkungan haruslah
terprogram dan terukur. Pendidikan lingkungan diawali penggalakkan kebersihan
dari keluarga, penanaman karakter prasekolah PAUD dan TK, aplikasi yang terukur
pada saat duduk dibangku SD. Pada tingkatan SMP dan SMA membudayaan perilaku
ramah lingkungan. Sampai pada tingkatan perguruan tinggi mengaplikasikan,
membudayakan, mengevalusi dan bahkan meneliti permasalahan lingkungan. Sehingga
pengetahuan ini, selalu berkesinambungan dan tidak boleh terputus sampai
tuntaslah permasalahan lingkungan. Langkah lainnya, untuk membatasi atau
meniadakan sampah plastik, tentunya melalui penyadaran seluruh lapisan
masyarakat.
Semuanya
mempunyai peran apalagi warga negara yang baik pasti berusaha mengurangi sampah
plastik, mengajak teman dan saudara untuk menggerakkan minim sampah one day no
to plastic. Kampanye ke media sosial menggalakkan penggunaan kantong belanja
non plastik, menyampaikan informasi bahaya polusi sampah, banyak ragam cara
agar masyarakat sadar mengurangi sampah. Akhirnya, masing-masing individu baik
itu sebagai pelajar, mahasiswa, ataupun sebagai warga mempunyai peran yang
nyata agar permasalahan sampah di negeri kita teratasi. Mari bergandeng tangan,
diniatkan dengan keikhlasan untuk menjaga bumi. Manusialah yang bertanggung
jawab untuk memakmurkan bumi, karena manusia sebagai kholifah fil ardri.
(Myrra Cintana Leodiar)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar